Selasa, 18 Januari 2011

Tata Rias Pengantin Corak Solo Basahan

Tata rias busana adat pengantin Jawa Solo/Surakarta adalah suatu bentuk karya budaya yang penuh makna filosofi tinggi. Tradisi tata rias busana ini terinspirasi dari busana para bangsawan dan raja keraton Kasunanan Surakarta serta Istana Mangkunegaran, Jawa Tengah. Tata rias busana pengantin Solo tidak mempunyai banyak ragam dan gaya seperti tata rias busana pengantin Jogja. Namun tentu tidak kalah memikat dan indah untuk dilihat. Ada gaya tata rias dan busana pengantin Solo Putri dan tata rias busana pengantin Solo Basahan. Busana Solo Basahan berupa dodot atau kampuh dengan pola batik warna gelap bermotif alas-alasan (binatang) dan tetumbuhan hutan. Seiring berjalannya waktu, pilihan motif dan corak warna dodot semakin beragam namun
pilihan motif batik kain dodot tetap berpegang pada filosofi derajat mulia yang layak dikenakan pasangan pengantin.

Berikut adalah tata rias dan busana pengantin Solo Basahan:



PENGANTIN WANITA

Dalam tata rias wajah pengantin Solo, termasuk pula pengantin Solo Putri, biasanya mengikuti putri-putri raja di masa lalu. Kulit yang halus mulus, bersih dan kuning berkat ketekunan dan kerajinan mereka merawat kecantikan mulai dari lulur, mangir, ratus untuk rambut, mandi rempah dan minum jamu.





Peralatan yang digunakan yaitu sisir tatasan, sisir centhing, tusuk konde, jepit rambut besar dan kecil, harnal besar dan kecil, feter atau tali sepatu hitam dan karet, rajut bundar dari nilon (harnet), dan hair spray. Sedangkan aksesorisnya yaitu cundhuk jungkat, centhung dua buah, cundhuk mentul sembilan buah dengan corak kalas-alasan, sempyok yang berbentuk garuda dan tiba dada wiji timun.

Cara menata rambut :

· rambut disisir dan dibuat sunggar di kiri – kanan, lalu diikat menjadi satu.

· Lungsenan untuk mengikat rambut

· Rambut dibelah menjadi dua bagian

· Beri rajut panjang yang dibesi irisan daun pandan dan kuatlan dengan tusuk harnal

· Tutupi rajut pandan tadidengan sisa rambut, usahakan bentuknya membulat.

· Tusuk dengan harnal, lalu lanjutkan memasang lungsen

· Setelah itu pasang rajut bulat atau harnet agar rambut kelihatan rapi dan kuat

· Terakhir paasanglah rajut melati, yang ujung-ujungnya diberi tali lalu ditarik dan dikencangkan, tusuk dengan harnal.

· Memasang perhiasan : pasang centhung dua buah, letaknya pada pangkal pengampit, pasang cundhuk menthul 9 buah dengan corak kalas-alasan menghadap kebelakang. Pasang semyok yang berbentuk garuda, letaknya ditengah – tengah sanggul. Pasang tiba dada wiji timun di atas sanggul sebelah kanan.

Cara merias wajah

· Bersihkan wajah dengan susu pembersih, lalu diberi penyegar. Setelah itu seluruh wajah dan leher diberi pelembab dan bubuhi alas bedak berwarna kekuning-kuningan

· Buatlah alis dengan pensil alis hitamberbentuk menjangan ranggah (seperti tanduk rusa), ujung alis melengkung keatas menuju kearah sogokan dan ranggahnya, mulai dari tengah alis, ujungnya menuju penitis.

· Bayangan mata dibuat dengan cara: kelopak mata bagian bawah diberi warna coklat dan kelopak mata bagian atas berwarna hijau muda samar-samar. Bulu mata bolehdiberi maskara agar kelihatan lentik.

· Untuk pipi gunakan pemerah pipi warna merah samar-samar

· Gunakan lipstik warna merah sirih

· Buatlah laler menelok (tahi lalat) dari daun sirih berbentuk belah ketupat letakan diantara alis.

· Terakhir bubuhi tubuh pengantin yang terlihat dengan boreh atau alas bedak.

Untuk wajah, menggunakan bedak berwarna kuning. Dalam pembuatan alis dengan pensil alis warna hitam, dibentuk Mangot (lengkungan yang indah). Bagian mata diperindah dengan bayangan mata atau eye shadow. Pada kelopak mata, bagian atas diberikan warna hijau sama-samar, sedangkan kelopak mata bawah diberi warna coklat dan makin ke atas makin tipis warnanya. Garis mata ditebalkan dengan pensil warna hitam dan menggunakan mascara untuk mempertebal, menghitamkan dan memperlentik bulu mata. Wajah yang cantik harus terlihat cerah. Karena itu, biasanya pengantin wanita Solo menggunakan pemerah pipi dengan warna merah muda samar-samar dan lipstick berwarna cerah seperti merah. Riasan dahi pada wajah pengantin wanita Solo adalah hal yang paling penting. Riasan di dahi atau biasa disebut paes adalah perlambang kecantikan dan symbol membuang perbuatan buruk. Selain itu, merupakan awal si pengantin menuju kedewasaan. Paes pengantin Solo Putri berwarna hitam dan terdiri dari 4 bentuk cengkorongan yaitu bentuk Gajahan, bentuk Pengapit, Penitis, dan Godeg. Sanggul pengantin Solo Putri disebut sanggul Bangun Tulak. Sanggul ini memiliki ciri khas atau bentuk mirip kupu-kupu sehingga sering disebut Ngupu. Sanggul Bangun Tulak dahulu digunakan oleh permaisuri atau putri raja. Untuk putri yang sudah menikah, sanggul berhiaskan bunga Bangun Tulak, sedangkan yang belum menikah tidak mengenakan bunga apapun.

Tak boleh dilupakan adalah hiasan sanggul agar sanggul terlihat cantik dan indah. Ada beberapa hiasan penting penghias sanggul yaitu Cunduk Mentul, Bros Gelung (simyoki), Tanjungan, Sintingan, Cunduk Jungkat, Centung, Borokan dan Tiba Dada Bawang sebungkul. Cunduk Mentul berjumlah 7 buah dan dipasang seperti kipas menghadap ke depan. Bros Gelung atau juga disebut ceplok gelung dipasang di bagian tengah sanggul. Tanjungan berjumlah 6 buah dan dipasang di sebelah kiri dan kanan masing-masing 3 buah. Sedangkan Sintingan terdiri dari 2 buah bunga kantil, yang dipasang dengan cara diselip pada rambut di sebelah kiri sanggul tepat di belakang telinga. Cunduk Jungkat berupa hiasan yang dipasang dari arah depan di atas ubun-ubun, sementara Centung dipasangkan pada pangkal pengapit sebelah kiri dan kanan. Borokan berupa 4 atau 5 bunga melati yang ditusuk dengan lidi dan dipasang di sebelah kiri Cunduk Jungkat. Terakhir, Tiba Dada Bawang Sebungkul adalah rangkaian bunga melati yang dipasang di atas sanggul di sebelah kanan teruntai hingga dada sebelah kanan. Sebagai pelengkap adalah subang, kalung, gelang dan cincin.

PENGANTIN PRIA
Tata rias wajah dan rambut pengantin pria terinspirasi dari raja keraton Kasunanan Surakarta. Di atas kepala, pengantin pria mengenakan Kuluk Kanigoro (semacam topi) dengan garis-garis berwarna kuning yang disebut Tarak. Perhiasan yang ada di atas Kuluk disebut Nyamat. Pengantin pria juga mengenakan bunga yang disebut Sumping yang terbuat dari bunga melati setengah mekar dan ditusuk dengan lidi. Sumping tersebut dikenakan pengantin pria dengan cara diselipkan pada telinga kiri dan kanan.

Makna dari busana basahan adalah simbolisasi berserah diri kepada kehendak Tuhan akan perjalanan hidup yang akan datang. Busana basahan mempelai wanita berupa kemben sebagai penutup dada, kain dodot atau kampuh, sampur atau selendang cinde, sekar abrit (merah) dan kain jarik warna senada , serta buntal berupa rangkaian dedaunan pandan dari bunga-bunga bermakna sebagai penolak bala.

Busana basahan pengantin pria berupa kampuh atau dodot yang bermotif sama dengan mempelai wanita, kuluk (pilihan warnanya kini semakin beragam, tidak hanya biru sebagaimana tradisi Keraton) sebagai penutup kepala, stagen, sabuk timang, epek, celana cinde sekar abrid, keris warangka ladrang, buntal, kolong keris, selop dan perhiasan kalung ulur. Busana Sikepan Ageng / Busana Solo Basahan Keprabon adalah salah satu gaya busana basahan yang diwarnai dari tradisi para bangsawan dan raja Jawa yang hingga kini tetap banyak diminati. Mempelai pria mengenakan kain dodotan dilengkapi dengan baju Takwa yakni semacam baju beskap yang dulu hanya boleh dipergunakan oleh Ingkang Sinuhun saja. Untuk mempelai wanita memakai kain kampuh atau dodot dilengkapi dengan bolero potongan pendek berlengan panjang dari bahan beludru sebagai penutup pundak dan dada.

Cara menata rambut pengantin pria tidak serumit pengantin wanita. Setelah pengantin pria dijamasi rambutnya, dikeringkan, kemudian dirapikan. Mengenakan kuluk matak dengan warna kebiru-biruan. Ditelinga kanan dan kiri diselipkan bunga melati untuk sumping. Cara merias wajah dan kosmetik yang digunakan untuk pengantin pria sama dengan paes corak Solo Putri. Hanya ditambahkan dengan boreh (alas bedak) atau bisa diganti dengan foundation yang warnanya sama. Setelah wajah dirias tipis, kemudian seluruh badan diolesi dengan alas bedak (boreh) secara merata dan samar-samar.

Solo basahan adalah jenis kostum pengantin adat Jawa yang tampil elegan dan mampu menunjukkan kegagahan pengantin laki-laki serta keluwesan pengantin perempuan. Kostum Solo Basahan bukan berupa baju, melainkan lembaran kain lebar dengan corak menarik yang dikenakan ditubuh dengan menggunakan teknik lipatan khusus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar